Surat Kecil untuk Tuhan

Oleh Melba Ferry Fadly
“Aku sudah lelah menangis,” gumamnya dalam hati.
Dua bulan belakangan ini penyakit ibu semakin parah. Kaki kirinya membengkak. Sisa luka bekas terjatuh di betisnya semakin membesar.


Dokter bilang, kadar gula dalam tubuhnya semakin tinggi. ibu kena diabetes. Siti tak tahu penyakit apa itu. Yang pasti Siti ingin ibu segera sembuh. Biar ada yang menemani Siti tidur, biar ada yang menyisirkan rambut Siti sebelum berangkat ke sekolah. Dan Siti ingin ibu tertawa lagi.

***
Selesai mencuci piring, beres rumah dan menjemur pakaian. Siti bersiap dulu dengan seragam merah putih. Dia masih sibuk di dapur. Suara batuk ibu dari tadi tak henti-henti membuat Siti khawatir. Sarapan ibu pagi ini cuma bubur dengan garam. Siti masuk ke kamar, dia melihat ibu sedang berusaha untuk duduk dari tempat tidurnya. Tangannya yang ringkih menjangkau segelas air putih hangat di atas meja. Siti yang melihat ibunya terseok-seok segera menghampiri dengan rasa cemas. Dia langsung meraih gelas itu. Tangan Siti yang mungil, menggigil saat menuangkan air ke mulut ibunya.

“Bu, pagi ini Siti buat bubur untuk ibu. Ibu cepat sembuh ya,” kata Siti sambil mengaduk-aduk bubur yang masih hangat itu. Perlahan bibirnya terlihat lucu saat meniup onggokan bubur di atas sendok. “Ibu cepat sembuh ya… Siti sayang ibu. Aaa…Aammm.” Senyum sumbringah terpancar di wajah Siti saat bubur di sendok itu habis dilahap.

“Siti maafkan ibu ya, Nak. Tak seharusnya anak seusia kamu menanggung beban seperti ini.” Ucapan itu di iringi tetesan air mata dari kelopak keriput sang ibu yang termakan usia. Dengan polosnya dia menjawab. “Siti cuma ingin ibu sembuh. Siti ingin ibu bercerita lagi tentang ayah. Siti tak pernah punya kenangan bersama ayah, dan Siti tidak mau kenangan bersama ibu menambah buruk hidup Siti.” Ibu tak mampu bicara sepatah katapun. Mulutnya menggigil. Deraian air mata tak kuasa ditahan, terus mengalir membasahi pipi tua-nya.

“Ibu kenapa menangis. Kalau ibu nangis, Siti sedih.” Jari-jemari Siti yang  mungil perlahan menyentuh pipi ibunya. Sang ibu langsung mendekap tubuh kecil itu sambil tersedu-sedu. Tanpa sadar, seragam putih yang dikenakan Siti-pun, basah.
***
“Pak Nasir, tunggu pak. Tunggu… jangan ditutup dulu,” teriak  Siti sambil berlari mengejar pintu gerbang sekolah.

“Aduh nooon… Bapak sudah capek kena marah sama guru kemahasiswaan. Non kenapa telat terus.”
“Saya bantu ibu dulu, Pak.”

“Ya sudah. Non masuk sekarang. Pelajaran sudah mau dimulai.”

“Terimakasih Pak Nasir,” jawab Siti sambil berlari masuk kelas.

Sampai di depan kelas pintu sudah ditutup. Siti memberanikan diri mengetuk pintu. Hari-hari seperti ini sudah biasa ia lewati selama dua bulan terakhir. Sejak ibunya jatuh sakit dan tak mampu untuk berjalan. Seorang pria muncul dari balik pintu kelas itu. Wajah Pak Munzir memang tak pernah ramah pada siapapun. Matanya terlihat galak. Belum lagi kumis tebalnya yang membuat siapa saja takut jika berpas-pasan dengannya. Sebelum dipersilahkan duduk Siti di marahi habis-habisan.

Kebetulan hari itu Pak Munzir menggantikan Bu Mira, wali kelas I A yang tidak bisa hadir. Tubuh kecil Siti hanya mematung di depan kelas mendengar cercaan dari Pak Munzir. Kepalanya menunduk menatap lantai yang mulai kabur karena tersibak air mata. Namun Siti masih bisa menahan agar air mata itu tidak menetes dan membasahi pipinya. Jika itu terjadi, tidak hanya Pak Munzir, teman-teman sekelasnya juga akan mengejek Siti habis-habisan. Siti memang tidak pernah kepada siapapun tentang penyakit ibunya atau alasan mengapa ia sering terlambat ke sekolah.

“Kamu baru kelas II SD saja sudah sering terlambat. Sudah, duduk sana. Besok jangan di ulangi lagi,” bentak Pak Munzir.

Langkah lesu-nya mengakhiri amarah Pak Munzir. Siti berlalu duduk di di bangkunya. Di kelas, gadis kecil itu lebih banyak tidur dibanding mengikuti pelajaran. Ia tak kuasa menahan kantuk karena sering menjaga ibunya yang sakit sepanjang malam. Jangankan mengerjakan PR, buku pelajaran saja sering lupa ia bawa lantaran harus berkelahi dengan waktu. Tak pantas rasanya anak sekecil itu dipaksa untuk memecahkan karang demi sebuah impian hidup dimasa yang akan datang. Lengan Siti masih terlipat di atas meja. Kepalanya tertunduk, ia masih menyembunyikan air matanya sambil memutar kembali fikiran tentang keadaan ibunya dirumah. Ketika istirahat pun Siti tidak keluar kelas. Ia masih mengurung diri di kelas. Perlahan ia membuka bungkusan bekal yang sengaja disiapkannya dari rumah. Semangkok bubur sisa sarapan ibunya tadi, cukup untuk mengganjal perut Siti yang kosong sejak pagi.

“Siti… Siti… “ teriak Salsabila, teman sekelasnya. “Ayo pulang. Jam pelajran berikutnya kita tak masuk, para guru sedang rapat.”

Siti masih diam dan menghabiskan nasi bubur bekalnya tadi. Sementara suasana riuh seketika memekak ketika anak-anak yang lain berlarian masuk kelas, membereskan peralatan belajar mereka dan berlalu pergi. Setelah selesai makan, Siti membereskan peralatan belajarnya, dengan pasti Siti juga meninggalkan kelas.
Di gerbang sekolah. Siti duduk sebentar menunggu angkot yang lewat. Ia mengeruk saku di dadanya dan menggenggam dua buah koin lima ratus rupiah. Suasana itu ternyata mencuri perhatian Pak Nasir. Security sekolah itu menghampiri Siti. Ia melihat tangan Siti sedang mengenggam koin itu.

“Siti, uang kamu tidak cukup untuk ongkos pulang.”

“Cukup pak, Siti kan masih kecil,” jawab Siti dengan kepolosannya.

“Kamu jangan pulang dulu. Temani bapak cerita ya. Kita duduk dulu di Pos, nanti kamu bapak antar pulang.”

“Tapi ibu Siti sendirian dirumah pak. Ibu sedang sakit.”

“Ibu kamu sakit apa?” tanya pak Nasir sambil memimpin bahu kecil Siti ke pos. Akhirnya Siti bercerita banyak terntang ibunya yang sedang terbaring lemah di tempat tidur. Siti juga bercerita tentang kehidupannya yang sejak kecil ia tidak pernah tahu bagaimana wajah sang ayah. Kenangan bersama ayah hanya ia dengar dari cerita ibu.

“Kata ibu ayah sudah duluan bertemu tuhan. Pak, Siti boleh tanya sesuatu?”

“Boleh, kamu mau tanya apa?”

“Pak, bagaimana rasanya punya ayah.” Pak Nasir hanya diam, ia justru tak mampu membuka bibirnya. Mata Pak Nasir tak berkedip memandang wajah kecil Siti. Raut mukanya berubah menahan kesedihan. “Oh tuhan, sanggupkah anak sekecil ini menanggung ujian dari mu,” ucap Pak Nasir dalam hati.

“Siti, punya ayah itu sangat menyenangkan. Ayah itu teman bermain bagi anak-anaknya.”

“Ayah bisa marah juga pak?”


“Tidak sayang, bapak yakin ayah Siti pasti orang baik.”

“Kalau begitu sama seperti ibu ya, Pak.” Pak Nasir mengangguk dengan wajah haru. Rasa ibanya kepada Siti membuat batin Pak Nasir menjerit. Sebab Pak Nasir punya pengalaman buruk tentang keluarganya. Ayah Pak Nasir pergi meninggalkan keluarga ketika Pak Nasir masih duduk di bangku kelas enam SD. Karena itulah Pak Nasir Putus sekolah dan kini ia berkerja menjadi security di tempat Siti sekolah.

“Kamu yang sabar ya, nak. Tuhan punya rencana lain untuk hidupmu.”

“Apa rencana tuhan untuk Siti, Pak?”

“Entahlah… yang pasti Siti tak akan pernah menduga itu.”

“Pak, Siti ingin bercerita kepada tuhan tentang ibu. Seperti Siti bercerita kepada bapak.”

“Kamu sholat dan berdo’a-lah. Sampaikan semua yang ingin kau ceritakan kepada tuhan. Dia Maha pemberi dan Maha penyayang, Siti.”

“Kalau berdo’a, Siti sudah sering pak, tapi ibu tetap saja tak sembuh-sembuh. Pak, kalau Siti menulis surat untuk tuhan bagaimana?”
***
Ditengah derasnya hujan yang turun malam itu, Siti duduk di sebuah meja. Di atas meja itu tersedia selembar kertas putih dan tiga lembar amplop. Jari-jarinya memutar-mutar sebuah pensil yang menjepit di antara ibu jari dan telunjuknya. Sesekali pensil itu dipukul-pukul pelan ke keningnya. Di lembaran itu ia mengitung berapa biaya untuk berobat ibunya. Setelah dihitung-hitung semuanya sekitar seratus ribu rupiah.

“Kalau ke rumah sakit uang ini tidak cukup. Ah… Siti segan kalau minta uang berjuta-juta sama tuhan. Kalau minta banyak, takutnya Dia marah. Tapi tak apa lah, seratus ribu rupiah cukup untuk berobat ibu ke dukun kampung,” gumamnya dalam hati.

Setelah selesai mengitung-hitung, mulailah Siti menarik kertas kosong di samping amplop itu. Otaknya sedang menyusun kalimat terindah untuk Tuhan. Rencananya malam ini Siti akan menulis semua cerita tentang sang ibu, dan mengkalkulasikan jumlah uang seratus ribu rupiah itu untuk keperluan ibunya.

Kepada, Tuhan
Di Tempat
Sebelumnya saya mengucapkan rasa syukur kepada mu Tuhan, karena telah memberikan Siti kebahagiaan bersama ibu.

Tuhan… Siti sendirian mengurus ibu. Siti sudah tidak punya ayah. Kata ibu sekarang ayah bersama Tuhan. Kalau sempat tolong sampaikan salam Siti kepada ayah.

Dulu, ibu sering bercerita sebelum Siti tidur. Saat pagi, ibu yang menyisirkan rambut Siti sebelum Siti berangkat sekolah. Jika hujan turun, ibu tidur disamping Siti sambil memegang kening Siti.
Sekarang ibu sedang sakit, Tuhan.

Dia tidak bisa jalan. Badannya panas. Kakinya bengkak. Bekas goresan luka di kakinya semakin membesar. Ibu Siti tidak nakal. Dia hanya terjatuh saat sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Kakinya tergores pagar rumah tetangga. Lama-lama luka itu semakin membesar dan betisnyapun semakin membengkak. Kata dokter kadar gula di tubuh ibu terlalu tinggi. Ibu kena diabetes, tuhan. Entahlah… Siti tidak tahu diabetes itu apa.

Tuhan…
Maksud Siti menulis surat ini untuk meminjam uang kapada Tuhan. Setelah dihitung-hitung, awalnya Siti mau minjam uang satu juta rupiah untuk bawa ibu periksa kedokter. Tapi itu jumlah yang besar. Siti takut tak mampu membayarnya. Jadi, Siti mau pinjam uang seratus ribu rupiah saja. Itu cukup untuk bawa ibu berobat ke dukun di kampung sebelah. Berikut rincian uang seratus ribu rupiah itu:

Ongkos Pergi dan Pulang naik ojek          Rp. 20.000-
Biaya makan di jalan                                 Rp..20.000-
Upah untuk dukun kampung                   Rp. 50.000-
Semuanya                                                             Rp. 90.000-

Nah, sisa sepuluh ribu rupiah untuk Siti bayar SPP di sekolah. Meski ibu sakit, Siti tak ingin berhenti sekolah, Tuhan. Cita-cita Siti ingin menjadi pembaca berita di TV terkenal.

Sekian dulu surat dari Siti. Semoga Tuhan bermurah hati untuk membantu Siti. Jangan lupa sampaikan salam Siti kepada ayah. Terimakasih…
Siti Rahimah Anistasya
***
Pagi-pagi sekali Siti menemui Pak Nasir di sekolah. Ia minta Pak Nasir untuk mengantarkannya ke Kantor Pos. Siti sudah menyisihkan uang belanjanya hari ini untuk beli perangko. Naik sepeda motor, Pak Nasir mengantarkan Siti ke Kantor Pos. setelah semuanya selesai Siti dan Pak Nasir kembali ke Sekolah. Salah seorang pegawai Kantor Pos sempat kaget ketika menerima surat itu. Di amplop tertulis “Dari Siti Rahimah Anistasya, untuk Tuhan.”

Lama sekali pegawai Kantor Pos itu melihat surat yang ingin di kirim Siti. Kebetulan salah seorang Polisi sedang berada di Kantor Pos itu. Melihat tingkah aneh pegawai Kantor Pos, Polisi itu mendekat mengambil surat itu. Setelah membaca tulisan di bagian depan amplop, Polisi itu makin penasaran dengan isinya. Mereka membuka dan membaca surat kecil yang dititipkan Siti kepada Tuhan.

Setelah membaca isi surat itu, Polisi dan pegawai Kantor Pos terharu dengan kepolosan anak kelas II SD ini. Mereka sepakat untuk menyisihkan uang saku mereka, maksudnya ingin membantu Siti semampunya. Uang hasil sum-sum mereka terkumpul sekitar Sembilan puluh lima ribu. “Masih kurang lima ribu, pak,” kata salah seorang pegawai Kantor Pos kepada Polisi itu.

“Kita sudah berusaha semampu kita. Hari ini juga surat dari Siti harus dibalas. Mungkin dia sangat membutuhkan uang itu. Saya yang antar langsung ke rumahnya,” kata Pak Polisi.

Sore itu sekitar pukul 05.00, ibu Siti sedang lelap tertidur. Sementara tangan mungil Siti  sedang asik mengaduk-aduk ember berisi pakaian kotor di belakang. Dari lengan hingga keningnya belepotan dengan busa sabun. Siti sering menutup pintu jika ia sedang sibuk di dapur. Suara ketokan pintu seketika menghentikan aktifitasnya. Kaki kecil Siti beranjak menuju pintu. Siti kaget ternyata yang mengetuk pintu rumahnya adalah seorang Polisi.

“Kamu Siti Rahimah Anistasya, kan?”

“Iya pak. Ada yang bisa Siti bantu?”

“Siti, tanpa kamu sangka Tuhan sangat cepat membalas surat yang kamu kirim kepadanya. Ini balasan dari tuhan. Ambillah.” Wajah polos Siti hanya terpana sambil meraih amplop kuning dari tangan pak Polisi itu.
“Terimakasih pak,” jawab Siti. Tak ingin berlama-lama, pak Polisi itu pun langsung pergi dari rumah Siti. Setelah menutup pintu rapat-rapat, Siti berlari menuju kamar ibunya. Melihat ibunya sedang tidur Siti tak kuasa membangunkan sang ibu untuk memberikan kabar gembira ini. Ia kembali beranjak ke meja belajarnya di samping ruang tamu.

Senyum sumbringah menghiasi bibir manis Siti ketika membuka amplop kuning dari pak polisi itu. Isinya uang lima puluh ribu satu lembar, uang sepuluh ribu empat lembar dan uang lima ribu satu lembar. Setelah dihitung-hitung total jumlah uang yang ada di dalam amplop itu sebesar Sembilan puluh lima ribu rupiah. “Hmmm… Masih kurang lima ribu tuhan,” gumam Siti dalam hati. Uang itu langsung ia simpan di bawah bantal tempat ibunya tidur, sambil berkata. “Ibu, besok kita berobat ya.” Ketika malam, Siti menarik selembar kertas dan sebuah pencil. Ia kembali menulis surat untuk tuhan.

Kepada Tuhan
Siti ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada Tuhan. Uang yang Tuhan kirim sudah Siti terima. Lain kali kalau mau kirim uang jangan dengan Pak Polisi ya tuhan, karena uang yang tuhan kirim dipotong lima ribu rupiah. Salam untuk ayah tuhan. Terimakasih.
Siti Rahimah Anistasya.
SELESAI
Comments
0 Comments